MAGELANG – Kehadiran 64 mahasiswa Program Studi Biologi UIN Walisongo di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, berhasil menghadirkan ragam solusi spesifik bagi permasalahan di enam desa binaan.
Selama 45 hari pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Misi Khusus (MMK), para akademisi muda ini merumuskan teknologi tepat guna melalui beragam inovasi KKN UIN Walisongo yang disesuaikan dengan potensi alam masing-masing wilayah. Mulai dari perakitan alat pertanian, pengolahan limbah organik, hingga diversifikasi pangan lokal.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung dari 21 Juli hingga 3 September 2026 ini melibatkan total 90 agen perubahan lintas fakultas. Mahasiswa memetakan potensi enam desa binaan untuk mengeksekusi tema “Optimalisasi Keanekaragaman Hayati Lokal untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan”.
Ketua Program Studi Biologi UIN Walisongo, Dr. Dian Ayuning Tyas, M.Biotech, menegaskan pentingnya aksi nyata para mahasiswa di lapangan.
“Program KKN ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan pembuktian bahwa keilmuan biologi dapat memberikan solusi aplikatif bagi ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan di tingkat desa,” ujar Dian, Senin (31/8/2026).
Sinergi Rocket Stove dan Budidaya Maggot
Mahasiswa merancang program yang merespons langsung kebutuhan warga setiap posko. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dian Triastari Armanda, M.Si., mendampingi langsung jalannya program di Posko 5 Desa Gondowangi. Kelompok ini menginisiasi sistem pengelolaan sampah melalui penciptaan kader lingkungan, pembuatan rocket stove, serta budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Tim KKN menggelar sosialisasi pengolahan limbah tersebut di Balai Desa Gondowangi pada Jumat (14/8/2026) dengan dihadiri jajaran perangkat desa dan mayoritas ibu-ibu PKK.
Kepala Desa Gondowangi, Bambang Setiyadi, SE, menaruh harapan besar agar inisiatif mahasiswa ini membawa perubahan konkret bagi tata kelola lingkungan desanya.
“Dengan adanya kegiatan sosialisasi tersebut, masyarakat Gondowangi memiliki pandangan yang berbeda terhadap sampah, sehingga masalah sampah dapat teratasi di Desa Gondowangi,” ujar Bambang.
Dian Triastari Armanda turut memberikan apresiasi tinggi atas terobosan rancangan wastafel khusus budidaya maggot dan tungku pembakar garapan mahasiswanya. Kombinasi inovasi ini menawarkan solusi komprehensif penanganan sampah sekaligus membuka potensi ekonomi mandiri warga.
“Sinergi antara agen biokonversi Hermetia illucens dari budidaya Maggot dan teknologi pemusnahan termal minim emisi dari rocket stove ini menciptakan siklus ekonomi sirkular yang tepat. Desain wastafel budidayanya mengoptimalkan degradasi organik, sementara tungkunya memotong rantai residu anorganik tanpa mencederai prinsip konservasi udara,” papar Dian.
Teknologi ekologis juga merambah Posko 3 Desa Gantang di bawah bimbingan DPL Galih Kholifatun Nisa’, M.Sc. Mahasiswa Posko 3 merakit rocket stove, menyelenggarakan seminar biopori, membuat pupuk organik cair (POC) dan ecoprint, hingga menginisiasi berdirinya bank sampah.
Alat Pupuk Ergonomis Selamatkan Tangan Petani
Terobosan teknologi berlanjut di Posko 4 Desa Kapuhan. Kelompok bimbingan Galih Kholifatun Nisa’ ini merancang purwarupa alat penabur pupuk ergonomis untuk mempermudah pekerjaan petani dan mengolah panen tomat menjadi saus bernilai jual.
Setelah menggelar sosialisasi di balai desa, para mahasiswa dan petani langsung menguji coba inovasi alat pertanian tersebut. Mereka menaburkan pupuk menggunakan purwarupa ini di lahan cabai yang baru berusia 20 hari.
Antusiasme seketika mewarnai suasana ladang saat butiran pupuk NPK meluncur merata ke tanah, tanpa mengharuskan jemari telanjang menyentuhnya secara langsung.
“Alatnya sudah bagus Mbak, Mas. Pemupukan jadi lebih mudah dan aman untuk tangan kami,” ucap salah seorang petani dengan senyum merekah.
Eco Enzyme dan Diversifikasi Pangan Desa
Intervensi mahasiswa terus meluas ke sektor produk hayati dan gizi keluarga. Di Desa Jati, mahasiswa Posko 2 di bawah arahan DPL Niken Kusumarini, M.Si., melatih warga membuat eco enzyme dan membangun taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Niken juga membimbing Posko 7 Desa Soronalan yang bergerak membekali siswa sekolah dasar memilah sampah, serta melakukan penyuluhan pemanfaatan daun kelor dan kemukus.
Sementara itu, tim Posko 6 di Dusun Sobowono, Desa Podosoko, aktif mengadakan workshop diversifikasi pangan. Mahasiswa melatih warga mendobrak ketergantungan pada beras dengan mengolah singkong segar menjadi sajian bubur bertekstur lembut.
Happy Dwi Alfarizi, perwakilan mahasiswa KKN yang memandu praktik tersebut, menjelaskan bahwa langkah memperkaya asupan gizi keluarga membutuhkan penyesuaian yang konsisten.
“Untuk memulainya sebenarnya cukup sederhana. Kita bisa mengenali dulu pangan lokal yang ada di sekitar, kemudian mulai mencoba makanan selain nasi secara bertahap. Pangan tersebut juga bisa dikombinasikan dengan lauk, sayur, dan buah. Selain itu, penting juga mengenalkan pangan lokal kepada anak-anak dan mengolahnya menjadi makanan yang menarik serta disukai keluarga,” ujar Happy Dwi Alfarizi.
Dian Ayuning Tyas sangat menaruh harapan agar warga dapat secara mandiri melanjutkan penerapan teknologi tepat guna yang telah diinisiasi para mahasiswa tersebut. Keberlanjutan inovasi KKN UIN Walisongo, seperti peracikan eco enzyme dan praktik diversifikasi pangan lokal, dinilai sebagai kunci utama bagi terwujudnya ketahanan pangan yang tangguh di tingkat pedesaan.
